Aspek Sosial-Budaya Dalam Kehidupan Ekonomi Masyarakat Nelayan Tradisional
Pada
umumnya kajian-kajian sosiologi maupun antropologi kebanyakan memfokuskan atau
mengaji pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat Nusantara. Dengan kata lain,
sedikit sekali mengaji tentang praktik-praktik ekonomi kehidupan masyarakat
Nusantara itu sendiri. Selain itu, kajian tersebut cenderung kepada peranan
Eropa dan sedikit sekali tentang peranan pribumi. Dalam konteks pembahasan ini,
kita perlu mengapresiasi adanya karya-karya yang ditulis van Leur dan Schrieke,
karena berkat beliau-beliaulah masyarakat nusantara mendapat posisi atau
keberadaan yang penting dalam aktivitas perdagangan dan ekonomi di dunia
khususnya di Asia. Sangat kurangnya
studi-studi atau pengajian tentang aspek sosial-budaya khususnya dalam aktivitas
perekonomian dalam masyarakat desa tradisional ini pun terjadi pada masyarakat
Madura, terutama di kalangan masyarakat desa tradisional di daerah pesisir.
Penelitian yang bersifat ke-Madura-an masih banyak difokuskan dan mengaji pada
kehidupan masyarakat "petani tradisional" (traditional peasant
society), seperti yang telah dilakukan oleh Kunto-wijoyo (1980); Leunissen (1982;
1989), Touwen-Bouwsma (1989), Smith (1989) dengan fokus permasalahan tentang
kehidupan sosial-ekonomi di Madura, sedangkan penelitian-penelitian pada latar
kehidupan masyarakat pesisiran relatif sedikit pengajiannya. Padahal didalam
kehidupan masyarakat Madura, kehidupan masyarakat yang berkehidupan dengan
bertani dengan nelayan sama pentingnya. Hal ini dikarenakan kedua matapencaharian
tersebut saling berdampingan. Penelitan yang dilakukan oleh kedua beliau
tersebut, yaitu Karjadi dan Imam, dilakukan di sebuah desa nelayan tradisional
"Bandaran" yang terletak di daerah pesisir utara selat Madura,
sekitar 20 Km sebelah barat daya kota Pamekasan Madura Boeke memberikan
kesadaran kepada kita bahwa dalam berbagai kajian tentang perekonomian,
kedudukan, peran dan arti desa tradisional hampir-hampir terabaikan dan tidak
disinggung, kalaupun disinggung, sejauh desa tradisional itu mulai terlibat
atau terkait dalam permasalahan perekonomian kota. Desa tradisional menjadi
terisolir dan menjadi tersubordinasi oleh keberadaan kota. Menurut Boeke
(1983), desa tradisional merupakan sebuah rumah tangga yang secara ekonomi yang
bisa dikatakan berdaulat, dan mandiri. Desa tradisional juga merupakan sebuah
"unit produksi" bagi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan konsumtif bagi kalangan
kelas menengah dan atas (penguasa, bangsawan, pemilik tanah/modal, dll),
sementara bagi kalangan bawah, hal itu tidak lain adalah kewajiban sosial dan
ekonomi mereka atas perlindungan dan pimpinan yang diberikan oleh kalangan
menengah dan atas dan ini berarti pula sebagai bentuk pengabdian kepada penguasa
alam yang Maha Kuasa.
Tidak
seperti struktur kehidupan sosial pada masyarakat perkotaan, menurut de Jong
(1989), kehidupan sosial masyarakat desa tradisional sulit diklasifikasikan
menurut pekerjaan mereka. Masyarakat desa tradisional yang hidup di daerah-
daerah pertanian pedalaman hidup dalam kelompok-kelompok yang cenderung
bersikap "tertutup", serta dengan semangat kelompok yang kuat dan
kekeluargaan, karena mereka menganggap bahwa eksistensi individu terletak di
dalam kehidupan berkelompok atau bermasyarakat dan berkelompok. Menurut Boeke
(1983), Sebagai sebuah pengabdian dan alat untuk mempertahankan hidup, maka
bagi masyarakat desa tradisional bekerja bukanlah suatu "kejahatan yang
terpaksa dilakukan, karena itu sedapat mungkin dijauhi dan dibatasi".
Dalam
pengajian kondisi sosial dan budaya masyarakat nelayan tradisional Desa Bandaran,
Desa Bandaran merupakan sebuah potret kehidupan desa nelayan tradisional, yang
dalam menggerakkan aktivitas perekonomiannya begitu sangat mengandalkan pada
matapencaharian sebagai nelayan, dan sedikit sekali yang memiliki
matapencaharian yang tetap. Bandaran merupakan salah satu desa (dhisa) di
antara delapan desa yang terdapat di wilayah Kecamatan Tlanakan, Kabupaten
Pamekasan, serta merupakan daerah perbatasan antara Kabupaten Pamekasan dan
Kabupaten Sampang, Madura. Secara geografis pada umumnya wilayah di desa
Bandaran kondisi tanahnya tidaklah terlalu subur, bahkan cenderung agak keras
sehingga aktivitas pertanian dapat dikatakan tidak berkembang atau tidak
diusahakan oleh penduduk setempat. Walaupun masyarakat desa Bandaran pesisir
tersebut berada pada daerah yang tidak terlalu subur, oleh sebab itu, mereka banyak
menggantungkan hidup pada hasil penangkapan ikan di laut. Seperti lazimnya
pemukiman masyarakat nelayan lainnya di Pulau Madura, rumah-rumah penduduk
setempat bisa dibilang cukuplah padat, berjejal, tidak menganut pola penataan
rumah seperti halnya dalam masyarakat petani pedalaman. Sebagai daerah
pemukiman cukup padat, upaya mereka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,
tampaknya dapat dipenuhinya dengan sendiri dari berbagai fasilitas warung atau
pertokoan yang ada di lingkup desanya tersebut. Nelayan tentunya merupakan
pekerjaan yang begitu mengandalkan jarring sebagai sarana menangkap ikan. Ada
empat jenis jaring (phajang ) yang biasa digunakan dalam keperluan penangkapan
ikan di laut, yaitu: (1) jaring lepas ( sethet ); (2) jaring gondrong; (3)
jaring lingkar (sleret ); dan (4) rakat. Kehidupan para nelayan Desa Bandaran
bukanlah bersifat individual, tetapi berkelompok dengan kata lain mereka
menjunjung tinggi kebersamaan dan kekeluargaan. Sistem atau pola rekrutmen
keanggotaan nelayan dilakukan secara: (1) sukarela dan (2) membeli. Cara
sukarela, adalah perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan yang
terbuka bagi siapa saja, atas dasar kesukarelaan yang bersangkutan untuk
menjadi anggota kelompok nelayan tersebut. Sedangkan dengan cara membeli adalah
perekrutan seseorang dalam sebuah kelompok nelayan dengan cara membeli atau
membayar agar yang bersangkutan itu mau menjadi anggota dalam kelompok.
Comments
Post a Comment